Politik

Rindu Perubahan, Partai Gelora Depok Dukung Pradi-Afifah

Ketua DPD Partai Gelora Kota Depok Subhan Rafei menyatakan sikap dukungan ke Pradi-Afifah di Posko Pemenangan Pradi-Afifah, Depok, Rabu (28/10/2020). Foto (Boy)

VoIR Indonesia, Depok – Tepat satu tahun berdirinya Partai Gelora, partai pecahan PKS itu akhirnya memberikan dukungan kepada calon wali kota dan wakil wali kota Depok Pradi-Afifah pada pilkada Depok yang akan berlangsung 9 Desember 2020.

Dukungan tersebut disampaikan Ketua DPD Partai Gelora Kota Depok Subhan Rafei di Posko Pemenangan Pradi-Afifah, Depok, Rabu (28/10/2020).

Berikut pernyataan dukungan Partai Gelora Depok yang dibacakan Subhan Rafei.

Kepada Segenap Masyarakat Kota Depok yang rindu pembaharuan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Lima belas tahun terakhir, kita menyaksikan dan merasakan pengelolaan Kota Depok yang kita cintai ini dengan segala pernak-perniknya. Di tahun 2020 ini kita kembali akan menjalani momen pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Depok. Ini momen penting. Karena inilah saatnya kepemimpinan Kota Depok dinilai secara terbuka oleh warganya.

Kami di Partai Gelora Depok membaca bahwa rezim yang berkuasa hampir dua dekade di Depok saat ini hanya menjadikan jabatan Walikota Depok sebatas pembuktian kekuatan dan hegemoni politik, bukan pembuktian kemampuan kerja membangun kota dan membahagiakan warganya.

Kami melihat bahwa rezim yang berkuasa di Kota Depok saat ini miskin inovasi, tidak piawai membangun harmonisasi kerja, dan kurang inisiatif dalam merangkul kekuatan potensial yang dimiliki warganya. Dan dalam pembacaan tersebut, rezim yang berkuasa di Depok saat ini seperti berjalan tanpa arah dan minim terobosan.

Evaluasi terbaru kami menyimpulkan, jika suatu rezim pemerintahan berkuasa terlalu lama maka dia akan mengalami penuaan dan pembusukan ide dan motivasi. Gejala kronis ini dikhawatirkan menjalar kedalam postur kerja aparatur pemerintahan.

Padahal, motivasi dan ide kreatif bagi aparatur pemerintahan adalah dua penopang utama daiam mengimplementasikan kerja-kerja pelayanan publik. Bukan hal yang mustahil cita-cita membangun kota yang maju, berbudaya, sejahtera menjadi slogan nir apresiasi dan nir implementasi. Karena itu, Kita patut khawatir, kekuasaan yang terlalu lama ini menjadi sebab kota Depok menjadi “Kota yang Gagal” bila tidak ada pembaharuan kepemimpinan.

Kota Depok sudah saatnya dipimpin oleh pribadi yang benar-benar dapat mengejahwantakan slogan Kota Depok sebagai “friendly city”, kota yang bersahabat. Bukan dipimpin penguasa kota yang berdiri diatas slogan adil namun-berjiwa-kerdil. Bukan-dipimpin penguasa kota yang berpidato di mimbarmimbar tentang kesiapan melayani warga, namun dirinya senantiasa ingin dilayani. Bukan dipimpin penguasa kota yang berkoar-koar tentang kota yang berbudaya, tapi tindak-tanduknya tak ramah terhadap perbedaan. Padahal ibarat warna, perbedaan itu indah adanya karena Berwarna, tidak Seragam, tidak satu warna. (*)

Baca Juga:  Experential learning dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani
To Top