Politik

Gerindra Sesalkan Tak Ada Doa di Sidang Paripurna Terakhir MPR 2014-2019

Fary Djemy Francis, Ketua Fraksi Gerindra MPR RI. Foto Dok. Akurat.co

Jakarta, VoIR – Sayang sekali, di sidang terakhirnya, MPR RI tidak menampilkan doa sebagaimana biasanya. Padahal dalam Rapat Gabungan Pimpinan MPR dan Pimpinan Fraksi, sudah disepakati agenda doa dalam rundown Sidang Paripurna tersebut.

Doa di Sidang MPR, Jumat (27/9/2019), pukul 09.00 Wib itu seyogianya giliran Fraksi Gerindra yang membacakan doa.

Sekjen MPR RI menghubungi pimpinan Fraksi Gerindra pada 26 September 2019 sore, memintakan nama pembaca doa yang akan diutus oleh fraksi.

Setelah mengkaji dengan segala pertimbangan, fraksi Gerindra memutuskan untuk mempercayakan SARASWATI DJOYOHADIKUSUMO untuk membacakan doa pada sidang tersebut.

Beberapa dari sekian banyak pertimbangan fraksi Gerindra adalah:

Untuk menggambarkan secara nyata bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sekali-sekali doa dipimpin oleh seorang non muslim. Kan gak masalah, karena memang jarang-jarang terjadi.

Baca Juga:  Melalui Facebook, Anggota DPRD Timbul Tinambunan Kritik Pemda Humbahas

Untuk menggambarkan secara nyata kesetaraan gender, termasuk dalam memimpin doa.

Kesetaraan terhadap orang muda, bahwa yang muda pun boleh memimpin doa.

Sesi doa akhirnya diputuskan oleh Ketua MPR untuk ditiadakan walaupun fraksi Gerindra bersama Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani berusaha menjelaskan pentingnya doa ini.

Sebelumnya, pihak kesekjenan MPR RI mencoba mengkonfirmasi kepada pimpinan fraksi Gerindra mengenai “doa yang tidak lazim di MPR”. Tapi fraksi Gerindra menegaskan bahwa keputusan fraksi adalah doa dibacakan oleh Saraswati Djojohadikusumo sebagai utusan/perwakilan dari fraksi Gerindra.

Kami menyesalkan peristiwa ini. MPR RI sebagai tulang punggung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika belum sepenuhnya menerapkan kebhinnekaan kita. (*)

Fary Francis, Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI

To Top