Politik

Debat I Capres-Cawapres 2019, Agnes Marcellina : Isi Kepala vs Isi Kertas

Agnes saat menjadi narasumber di salah satu acara di televisi nasional. Foto (facebook agnes marcellina)

VOIR – Pagi hari saya sudah mempersiapkan diri untuk nonton bareng bersama dengan teman-teman tetapi sekitar pukul 9.00 WIB saya ditelepon bahwa saya diundang untuk menghadiri langsung debat capres-cawapres di Gedung Bidakara.

Alhamdulilah, Puji Tuhan, tentu saya merasa terhormat dan senang sekali karena tempat yang disediakan sangat terbatas dan saya menjadi salah seorang yang mempunyai kesempatan untuk acara ini.

Masing-masing partai koalisi hanya diberi 6 kursi dan paslon diberi masing-masing 10 undangan. Karena tidak mau terlambat terhalang macet maka saya pun datang lebih awal sehingga bisa melihat persiapan panitia di dalam ruangan. Terima kasih kepada koalisi timses BPN yang sudah bekerja dengan rapi tanpa kenal lelah.

Sebenarnya, kalau boleh saya simpulkan, debat kemarin kalau di ibaratkan dengan pertandingan tinju maka pemainnya adalah kelas berat dan kelas ringan sehingga hasilnya pun mudah ditebak karena pemain kelas ringan sangat mudah dikalahkan. Paslon 02 ibaratnya pemain kelas berat sedangkan paslon 01 kelas ringan.

Memang tidak seru karena ISI KEPALA nya berbeda dan tidak seimbang. Tetapi pertandingan ini tetap harus dilaksanakan dan untuk mengatasi agar tidak ada paslon yang dipermalukan maka dibuatkan tampilan debat tersebut dengan format yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi tidak greget. Siapa sih sebenarnya paslon yang dianggap punya potensi untuk dipermalukan?

Seorang teman wartawan dari kubu 01 mengirim pesan melalui WhatsApp yang bunyinya, “Harus diakui untuk debat perdana ini 02 memimpin. Tampil lebih otentik, sementara 01 tampak tidak alamiah dan kurang menguasai panggung.” Wooow…. Kalau pernyataan ini datangnya dari kubu lawan maka menjadi sesuatu “banget” buat saya.  Terima kasih bang Thomz atas penilaiannya yang adil.

Di sesi pertama saja, paslon 01 sudah keok, tampil dengan tidak percaya diri. Menyampaikan visi misi saja harus dengan membaca catatan dari kertas kecil berlembar lembar, kalau tidak salah warnanya kuning dilihat dari tempat saya duduk.

Bahasanya datar, bahasa tubuhnya tegang. Kelihatan bahwa visi misi tidak dibuatnya sendiri tetapi mungkin oleh orang lain karena jika dibuat sendiri maka untuk menyampaikan gagasan besar yang dirangkum dalam visi misi tidak perlu lagi memakai catatan apalagi waktunya cuma 3 menit.

Sebaliknya, penyampaian visi misi oleh paslon 02 sangat memukau, mulai dari berpakaian resmi seperti layaknya pemimpin sebuah negara besar, gagah, tenang dan percaya diri. Tiga  menit digunakan untuk menyampaikan rangkuman permasalahan bangsa dan bagaimana mengatasinya.

Prabowo tidak melihat sedikit pun pada contekan karena memang tidak membawa kertas dan yang dipertontonkan oleh paslon 02 adalah ISI KEPALA sedangkan yang disuguhkan oleh paslon 01 adalah ISI KERTAS. Dari keseluruhan sesi ke sesi, perbedaan mencolok yang sangat kasat mata adalah memang penampilan ISI KEPALA VERSUS ISI KERTAS.

Lagi lagi dari tempat saya duduk, saya bisa melihat dengan jelas cawapres 01 Bapak Kiai Ma’ruf Amin memegang kertas kertas putih kecil seperti bon kalau kita belanja di supermarket, bahkan tidak menyimak saat capres 01 memberikan paparan dan beliau sibuk dengan kertas kertas tersebut dan tampaknya sedang mencari kertas yang diinginkannya.

Saya tidak mengada-ada, jika ada camera dari sisi kiri maka itu pun akan sangat jelas terekam. Di meja paslon 01 juga ada tablet kecil yang terbuka dan sering kali capres 01 melihat ke tablet maupun kertas yang ada di meja.

Berbeda dengan paslon 02, capres maupun cawapres tidak memegang kertas sebesar A4 yang sepertinya isinya hanya pointers tetapi saat Sandi berbicara juga tidak membaca tetapi tatapannya tetap ke depan kepada pemirsa. Sandi memang tampil dengan sangat memukau, tampan, santun, intonasi suara diatur dengan baik, pokoknya wooow….banget deh kalau istilah zaman sekarang.

Yang sangat disayangkan adalah capres 01 Jokowi lebih banyak menyerang secara pribadi misalnya mempertanyakan kepada Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra tentang keterwakilan perempuan di partai.

Baca Juga:  Chinese Taipei jadi Lawan Pertama Timnas Indonesia di Asian Games 2018

Entah info dari mana yang tidak akurat mempertanyakan bahwa di Gerindra, pengurus perempuan hanya sedikit. Ngawur. Tentu saja ngawur karena kenyataannya adalah kepengurusan Gerindra di DPP mencapai 40% , di daerah daerah wajib mencapai 30% bahkan caleg perempuan untuk DPR RI mencapai 37% lebih tinggi dari yang ditetapkan KPU.

Isu ini pun sangat tidak berbobot untuk diangkat dalam debat capres cawapres karena yang harus dipikirkan adalah masalah mengatasi kemiskinan dan pendidikan di negeri ini. Kalau urusan partai politik serahkan saja kepada partai masing-masing untuk mengaturnya sesuai dengan mekanisme dan jika yang bersangkutan berada di partai PDPI ya lebih baik juga mengurus partainya sendiri agar perempuan yang ada di dalamnya adalah perempuan yang hebat bukan menteri-menteri perempuan dan diangkat dari partai tersebut tetapi tidak berbuat apa-apa untuk rakyat, tidak pro-rakyat.

Hello….apa saja yang dilakukan oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia? Lantas bagaimana dengan Menteri Kelautan dan Perikanan? Apakah dengan mengebom kapal-kapal asing seluruh masalah perikanan selesai? Apakah tingkat kesejahteraan nelayan meningkat? Apakah industri perikanan Indonesia bertambah maju dan menghasilkan lebih banyak devisa? Apakah mereka dianggap berprestasi? Sudahkah dibuat survey hasil kerja mereka? Jelas ini lebih penting karena mereka adalah tanggung jawab Presiden yang sekarang adalah juga capres 01.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah saat capres 01 membuka aibnya sendiri dengan mengatakan kalau untuk menjadi pejabat tidak perlu berbiaya besar dan menunjukkan contoh dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia tidak mengeluarkan uang sesenpun. Lagi lagi woooow…. of course because it’s not your money but somebody’s else money yaitu bapak Hashim S. Djojojadikusumo yang nota bene adiknya capres 02.

Saya heran kalau Jokowi tidak memahami dan tidak menyetujui bahwa adalah fakta untuk menjadi pejabat negara diperlukan biaya yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, seharusnya dia mengajak lembaga pemerintah legislatif untuk membuat perubahan undang-undang agar sistem yang akan diberlakukan ke depan tidak memberatkan putra-putri terbaik bangsa yang ingin mengabdi kepada negara untuk menjadi pemimpin bukan sebaliknya mengatakan tidak perlu uang dan contohnya adalah dia sendiri saat maju menjadi wali kota dan gubernur.

Ini adalah sebuah kebohongan atau tepatnya kebodohan atau misleading statement. Jangankan wali kota atau gubernur, untuk pemilihan kepala desa saja diperlukan biaya yang besar.

Komentar terakhir dari saya adalah saat capres 01 mengangkat isu mengenai caleg mantan koruptor dan lagi lagi dia menunjuk Gerindra. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah sebelum dia mengangkat ini dalam forum debat, sudahkah dia menelusuri kasus per kasus caleg-caleg tersebut?

Tidak kah dia menyadari bahwa orang orang yang sudah tertangkap KPK baik itu kepala daerah yang sudah diusung oleh partainya, anggota anggota dewan dari partainya yang urutannya tertinggi dalam kasus-kasus korupsi besar?

Perihal caleg-caleg yang dianggap mantan koruptor dan menunjuk langsung kepada Gerindra padahal dari caleg-caleg lain pun ada, tentu sebenarnya yang berwenang menentukan ini adalah Bawaslu dan KPU. Tanyakan kepada mereka karena ada aturan undang-undang Pemilu yang jelas, kok malah ditanyakan kepada capres 02.

Dalam setiap partai juga ada mekanisme dan yang pasti adalah Prabowo sebagai Ketum Gerindra tegas dalam hal korupsi. Siapapun kader yang terlibat korupsi yang merugikan uang negara pasti dipecat.

Kesimpulan akhir :

Capres 01 : tegang, emosional cenderung marah, tidak otentik, pemilihan kata yang tidak diplomatis bahkan terkesan agar kasar (misalnya lagi lagi nuduh), tidak elegan.

Capres 02 : santai, terlalu santun, otentik tidak dibuat-buat, siap karena tidak ada contekan sama sekali, kadang-kadang suara meninggi karena memang seperti ini tetapi konten tetap bermutu. []

Penulis adalah Ketua Departemen PAUD DPP Partai Gerindra, Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (PP GEKIRA), Caleg DPR RI Jabar XI

 

To Top