Keamanan

Sekjen GEKIRA Sikapi Penghadangan Ibadah Jemaat GBI Philadelpia Medan

Nikson Silalahi pada acara Dialog Kebangsaan di Menado, 4 Januari 2019

Jakarta (VOIR) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (PP GEKIRA) Nikson Silalahi menyampaikan sikap terkait penghadangan aktifitas beribadah Jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Philadelpia Martubung, Medan, Sumatera Utara pada Minggu, 13 Januari 2019 lalu yang viral di media sosial.

Sikap tersebut disampaikan Nikson kepada redaksi VOIR di kantornya di seputaran Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (17/1/2019).

Nikson Silalahi menyatakan prihatin atas kasus tersebut dan berharap masalah ini dapat diselesaikan dengan arif dan kepala dingin.

“Tentu kita sangat prihatin, peristiwa seperti ini berulang kembali. Tapi kita harus arif untuk meresponnya, menyangkut hal-hal yang menyebabkan peristiwa itu terjadi, yang jelas kita harus punya semangat bersama sesama anak bangsa NKRI, mencari solusi bersama, duduk bersama untuk mengatasi masalah ini,” katanya.

Sesungguhnya, ditambahkan Nikson Silalahi, toleransi antar umat beragama dalam keberagaman di Indonesia sudah berjalan baik sejak dulu. Satu atau beberapa kasus yang mengarah ke intoleransi tidak dapat dijadikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia yang beragam itu sudah meninggalkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, pun penghayatan terhadap Pancasila sebagai dasar negara.

“Sayangnya, oleh beberapa kelakuan anak bangsa yang mempertontonkan ketidakmampuan berdialog secara damai dalam beberapa perbedaan pandangan belakangan ini, sehingga kesan yang muncul adalah fanatisme, radikalisme makin mencuat,” ujarnya.

Baca Juga:  Maret, Pemerintah Terapkan Tarif Baru Transportasi Online

Untuk mengatasi masalah ini, ia berharap agar dialog penanganan persoalan ini dilakukan oleh PGI Wilayah Sumatera Utara serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat dan pihak-pihak terkait, agar ditemukan solusi damai dengan tetap berdasarkan kepada keberadaan kita sebagai negara yang berdasarkan hukum.

“Mereka yang berada di lapangan, dengan demikian diharapkan lebih memahami persoalan dan lebih mudah untuk berkomunikasi, pihak-pihak di luar atau pun jauh dari tempat kejadian, termasuk kita ini yang di Jakarta, hendaknya lebih menahan diri untuk mengeluarkan statement-statement, takutnya justru menambah kisruh,” ujarnya.

Sebagai anak bangsa yang lahir di Sumatera Utara, Nikson Silalahi menyatakan sangatlah tidak berdasar bahwa kejadian yang viral di media sosial itu dianggap sebagai peristiwa biasa, masyarakat Sumut sejak dulu sudah terkenal solid dalam penerapan toleransi umat beragama.

Oleh karena itu, supaya tidak terulang lagi kejadian serupa, maka pihak FKUB dan pemerintah setempat segera melakukan dialog damai dengan pihak-pihak terkait.

“Di sana kan sudah ada FKUB, kemudian ada pemerintah daerah. Mari kita dorong bahkan bawa dalam doa agar segera diselesaikan dalam semangat persaudaraan sebagai anak bangsa yang cinta keutuhan NKRI yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya menutup pembicaraan. (voir)

To Top