Tokoh

Ini Profil 6 Tokoh Peraih Gelar Pahlawan Nasional

Foto (IDN Times)

Salah satunya Abdurrahman Baswedan, kakek Gubernur DKI

Jakarta (VOIR) – Presiden Joko Widodo menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018 tanggal 6 November 2018. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden ini berlangsung di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/11).

Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, keenam pahlawan nasional terpilih itu dinyatakan memenuhi syarat umum dan syarat khusus, sesuai peraturan yang berlaku. Pemberian penghargaan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2018.

“Gelar Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan, menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan Negara Republik Indonesia,” kata Agus yang dikutip VOIR dari IDN Times.

Berikut profil singkat enam tokoh penerima Gelar Pahlawan.

  1. Abdurrahman Baswedan

Jabatan: Duta Besar Indonesia untuk liga Arab. Tempat, Tanggal Lahir: Surabaya, 9 September 1908. Wafat di Jakarta, 16 Maret 1986 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan

Abdurrahman Baswedan terlibat dalam dunia pergerakan dengan mengusung cita-cita mewujudkan bangsa Indonesia merdeka dan berdaulat. Sebagai keturunan Arab, ia menyuarakan cita-citanya ini dalam kelompok masyarakatnya dan juga ke masyarakat Indonesia secara luas. Ia secara konsisten memperjuangkan integrasi keturunan Arab ke dalam bangsa Indonesia.

Perjuangannya dilakukan melalui dunia jurnalistik, yaitu dengan tulisan-tulisannya di berbagai surat kabar, dalam dunia kepartaian melalui Partai Arab Indonesia (PAI), dan juga di dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah keluar dari dunia politik pada1960, Abdurrahman Baswedan mengalihkan perjuangannya ke dalam dunia pendidikan, dakwah, dan budaya.

  1. Agung Hajjah Andi Depu

Jabatan: Permaisuri Arajang Balanipa ke-51, Arajang Balanipa 52, Ketua Swapraja. Tempat, Tanggal Lahir: Tinambung Poliwali Mandar, 19 Agustus 1908. Wafat: 18 Juni 1985 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pemakaman Panaikan Makassar.

Hajjah Andi Depu adalah pelaku sejarah Indonesia dan merupakan sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi, serta loyalitas yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yaitu dengan mengerahkan dan mengoordinasikan semangat spontanitas pemuda pemudi untuk melawan penjajahan di Indonesia.

  1. Depati Amir

Jabatan: Pemimpin perjuangan melawan penjajahan di Tambang Timah. Tempat, Tanggal Lahir: Mendara, Pulau Bangka, Tahun 1805. Wafat: Kupang, Nusa Tenggara Timur, 28 September 1869 dan dimakamkan di Pemakaman Muslim Batukadera, Pemakaman Kupang.

Masa perlawanan Depati Amir berlangsung cukup lama, yakni 1830-1851, dan berhasil menyertakan gabungan warga lokal dan komunitas ‘asing-pendatang’ (penambang Tionghoa).

Walau taktik perang gerilya tidak cukup menimbulkan perlawanan yang massif, menyeluruh, dan berakibat kepada masalah logistik yang melemahkan barisan Depati Amir, tetapi kualitas perlawanan dan efek yang ditimbulkan menyebabkan konflik internal dalam birokrasi pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Konflik antara pihak militer dan birokrasi sipil juga turut membantu keberlangsungan perlawanan Depati Amir cukup lama, lebih dari 20 tahun.

  1. Kasman Singodimedjo
Baca Juga:  Menimbang Prestasi dan Ekspektasi dari Nomor Urut Pilpres

Jabatan: Penghulu, Carik (sekretaris desa), dan Polisi Pamong Praja di Lampung Tengah. Tempat, Tanggal Lahir: Poerworedjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904. Wafat: Jakarta, 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir.

Kasman Singodimedjo merupakan pemersatu bangsa yang terlibat dalam proses pengesahan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Kasman adalah tokoh Muhammadiyah yang menjadi pionir banyak lembaga baru Republik ini saat baru berdiri.

Kasman adalah ketua KNIP (parlemen) pertama, Jaksa Agung Kedua yang memelopori pembenahan organisasi Kejaksaan Agung, pemimpin Badan Keamanan Rakyat, dan selanjutnya memelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat sebagai cikal-bakal TNI.

Kasman merupakan sosok yang kritis dan tidak hanya pada masa Sukarno, juga pada masa Soeharto. Dia akan kritis saat negara ini salah urus. Sebagai salah satu founding father bangsa ini ia sangat terpanggil untuk meluruskan, siapa pun pemimpinnya.

  1. Ir. H. Pangeran Mohamad Noor

Jabatan: Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga. Tempat, Tanggal Lahir: Martapura, 24 Juni 1901. Wafat: Jakarta, 15 Januari 1979 dan dimakamkan di Kompleks Makam Sultan Adam, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan.

Pangeran Mohammad Noor telah berjuang bersama-sama rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu telah dimulai sejak ia masih kuliah di THS Bandung. Ia ikut terlibat menjadi anggota Jong Islamieten Bond. Sebuah organisasi kepemudaan yang ikut berjuang menyatukan gerakan pemuda yang masih berbeda-beda visinya menjadi satu visi, yaitu: Indonesia merdeka.

Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, sebagai Gubernur Kalimantan yang berkedudukan di Yogyakarata, Pangeran Mohammad Noor melakukan pelatihan militer kepada para pemuda Kalimantan untuk kemudian diterjunkan ke medan perang menghadapi Belanda di Kalimantan.

Setelah menjadi gubernur, Pangeran Mohammad Noor melakukan pekerjaan yang banyak membawa kemajuan pembangunan di Kalimantan secara keseluruhan dan khususnya Kalimantan Selatan. Atas kerja keras dan pengabdiannya, Kalimantan mengalami kemajuan.

  1. Brigjen K.H. Syam’un (Samioen, Sam’oen Bin Alwijan)

Jabatan: Bupati Serang (Januari 1946-Maret 1949). Tempat, Tanggal Lahir: Citangkil, Cilegon, Banten, 5 April 1894. Wafat: Gunung Cacaban, Cilegon, 2 Maret 1949 dan dimakamkan di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten.

Brigjen K.H. Syam’un adalah representasi rakyat Banten untuk Indonesia dalam kepahlawanannya. Ruang lingkup perjuangannya tidak sebatas secara fisik di Banten, tetapi bergema dan memiliki kontribusi secara nasional.

Syam’un telah melakukan tugasnya dengan baik, sehingga menambah keyakinan Sukarno-Hatta dalam mempertahankan Negara Republik Indonesia dari ancaman Gerakan Dewan Rakyat, yang melakukan teror-teror yang bertujuan membentuk wilayah sendiri yang terpisah dari Negara Republik Indonesia, yang dipimpin Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Syam’un memiliki sikap dan semangat tinggi anti-penjajah dan nasionalisme. Hal ini diekspresikan melalui pendekatan pendidikan dengan membangun pesantren dan perjuangan bersenjata. Dia memiliki posisi penting dalam PETA, Panglima Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam mempertahankan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan Sukarno-Hatta. Tak hanya itu, ia juga berkontribusi di pemerintahan, khususnya di Kabupaten Serang, serta mengirimkan kader-kader terbaiknya dari Banten dalam proses kemerdekaan Negara Indonesia. (voir/idntimes)

 

To Top